Revisi - Rekomendasi PAPDI tentang Pemberian Vaksinasi COVID-19

Jumat, 20 Agustus 2021

 Logo PAPDI new versi Bhs. INDONESIA.jpg

Revisi - Rekomendasi PAPDI tentang Pemberian Vaksinasi COVID-19

Sehubungan dengan program vaksinasi COVID-19 yang sedang berlangsung dan sampai saat ini telah menjangkau populasi yang lebih luas, berbagai saran dan masukan kami terima dari kondisi saat pelaksanaan vaksinasi. Berdasarkan hal tersebut, maka kami dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit dalam Indonesia (PAPDI) memberikan beberapa tambahan dan revisi rekomendasi vaksinasi COVID-19 Rekomendasi ini kami susun dengan mempertimbangkan beberapa hal yaitu:

1. Upaya untuk mencapai herd immunity (Kekebalan Kelompok) pada populasi Indonesia untuk memutuskan transmisi COVID-19 sehingga diperlukan cakupan vaksinasi yang luas dalam waktu secepat mungkin.
2. Kesepakatan dari para ahli mengenai keamanan dan manfaat vaksinasi COVID-19.
3. Bukti Ilmiah yang terus berkembang terkait dengan pelaksanaan vaksinasi COVID-19 pada penyakit dan kondisi tertentu.
4. Sudah dikeluarkannya 7 kali rekomendasi PAPDI yang selalu disesuaikan dengan perkembangan keilmuan yang ada.

 

LAMPIRAN REVISI REKOMENDASI

 

I. Individu usia 18 – 59 tahun yang memenuhi kriteria dibawah ini pada dasarnya TIDAK LAYAK untuk divaksinasi COVID-19, yaitu:
1. Reaksi alergi berupa anafilaksis dan reaksi alergi berat akibat vaksin COVID-19 dosis pertama ataupun akibat dari komponen yang sama dengan yang terkandung dalam vaksin COVID-19.
2. Individu yang sedang mengalami infeksi akut. Jika infeksinya sudah teratasi maka dapat dilakukan vaksinasi COVID-19. Pada infeksi TB, pengobatan OAT perlu minimal 2 minggu untuk layak vaksinasi.
3. Individu dengan penyakit imunodefisiensi primer.

 

II. Individu dengan kondisi dibawah ini pada dasarnya LAYAK untuk diberikan vaksinasi COVID-19 sesuai dengan keterangan yang tercantum pada tabel di bawah ini:

NO

PENYAKIT

CATATAN

1.

Penyakit autoimun

Individu dengan penyakit autoimun layak untuk mendapatkan vaksinasi jika penyakitnya sudah dinyatakan stabil sesuai rekomendasi dokter yang merawat.

2.

Reaksi anafilaksis (bukan akibat vaksinasi COVID-19)

Jika tidak terdapat bukti reaksi anafilaksis terhadap vaksin COVID-19 ataupun komponen yang ada dalam vaksin COVID-19 sebelumnya, maka individu tersebut dapat divaksinasi COVID-19. Vaksinasi dilakukan dengan pengamatan ketat dan persiapan penanggulangan reaksi alergi berat. Sebaiknya dilakukan di layanan kesehatan yang mempunyai fasilitas lengkap.

3.

Alergi obat

Perlu diperhatikan pada pasien yang memiliki riwayat alergi terhadap antibiotik neomicin, polimiksin, streptomisin, dan gentamisin agar menjadi perhatian terutama pada vaksin yang mengandung komponen tersebut. Namun, vaksin COVID-19 tidak mengandung komponen tersebut sehingga dapat diberikan vaksinasi COVID-19.

4.

Alergi makanan

Alergi makanan tidak menjadi kontraindikasi dilakukan vaksinasi COVID-19.

5.

Asma

Asma yang terkontrol dapat diberikan vaksinasi COVID-19

6.

Rinitis alergi

Rinitis tidak menjadi kontraindikasi untuk dilakukan vaksinasi COVID-19.

 

7.

Urtikaria

Jika tidak terdapat bukti timbulnya urtikaria akibat vaksinasi COVID-19, maka vaksin layak diberikan. Jika terdapat bukti urtikaria, maka menjadi keputusan dokter secara klinis untuk pemberian vaksinasi COVID-19. Pemberian antihistamin dianjurkan sebelum dilakukan vaksinasi.

8.

Dermatitis atopik

Dermatitis atopik tidak menjadi kontraindikasi untuk dilakukan vaksinasi COVID-19.

9.

HIV

Pasien HIV dengan kondisi klinis baik dan minum obat ARV teratur dapat diberikan vaksin COVID-19.

10.

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)

PPOK yang terkontrol dapat diberikan vaksinasi COVID-19.

11.

Interstitial Lung Disease (ILD)

Pasien ILD layak mendapatkan vaksinasi COVID-19 jika dalam kondisi baik dan tidak dalam kondisi akut.

12.

Penyakit hati

  • - Vaksinasi kehilangan keefektifannya sejalan dengan progresifisitas penyakit hati. Oleh karena itu, penilaian kebutuhan vaksinasi pada pasien dengan penyakit hati kronis sebaiknya dinilai sejak awal, saat vaksinasi paling efektif/respons vaksinasi optimal.
  • - Jika memungkinkan, vaksinasi diberikan sebelum transplantasi hati.
  • - Inactivated vaccine (seperti Coronavac) lebih dipilih pada pasien sirosis hati

13.

Transplantasi hati

Pada individu yang sudah dilakukan transplantasi hati dapat diberikan vaksinasi COVID-19 minimal 3 bulan pasca transplan dan sudah menggunakan obat-obatan imunosupresan dosis minimal.

14.

Hipertensi

Selama tekanan darah <180/110 mmHg dan atau tidak ada kondisi akut seperti krisis hipertensi.

15.

Penyakit Ginjal Kronik  (PGK) non dialisis

Penyakit ginjal kronik non dialisis dan dialisis dalam kondisi stabil secara klinis layak diberikan vaksin COVID-19 karena risiko infeksi yang tinggi dan risiko mortalitas serta morbiditas yang sangat tinggi pada populasi ini bila terinfeksi COVID-19.

Kriteria stabil meliputi pasien tidak sedang mengalami komplikasi akut terkait penyakit ginjal kronik, atau tidak dalam kondisi klinis lain dimana dalam penilaian dokter yang merawat tidak layak untuk menjalani vaksinasi.

16.

Penyakit Ginjal Kronik (PGK) dialisis (hemodialisis dan dialisis peritoneal)

 

17.

Transplantasi ginjal

Pasien resipien transplantasi ginjal yang mendapatkan imunosupresan dosis maintenance dan dalam kondisi stabil secara klinis layak diberikan vaksin COVID-19 mengingat risiko infeksi yang tinggi dan risiko mortalitas dan morbiditas yang sangat tinggi pada populasi ini bila terinfeksi COVID-19.

Catatan:

Pasien resipien transplantasi ginjal yang sedang dalam kondisi rejeksi atau masih mengkonsumsi imunosupresan dosis induksi dinilai belum layak untuk menjalani vaksinasi COVID-19.

18.

Gagal jantung

Gagal jantung yang berada dalam kondisi stabil dan tidak sedang dalam kondisi akut dapat diberikan vaksinasi

19.

Penyakit jantung koroner

Penyakit jantung koroner yang berada dalam kondisi stabil dan tidak sedang dalam kondisi akut dapat diberikan vaksinasi

20.

Aritmia

Aritmia yang dalam kondisi stabil dan tidak sedang dalam keadaan akut/ maligna dapat diberikan vaksinasi

21.

Gastrointestinal

  • - Penyakit-penyakit gastrointestinal selain Inflammatory Bowel Disease (IBD) akut layak mendapatkan vaksinasi COVID-19.
  • - Pada kondisi IBD yang akut misal BAB berdarah, berat badan turun, demam, nafsu makan menurun sebaiknya vaksinasi ditunda.
  • - Pendataan dan skrining pasien dengan penyakit autoimun di bidang gastrointestinal, seperti penyakit IBD (Kolitis Ulseratif dan Crohn's Disease) dalam skrining terdapat pertanyaan terkait gejala gastrointestinal seperti diare kronik (perubahan pola BAB), BAB darah, penurunan berat badan signifikan yang tidak dikehendaki.

22.

Diabetes Melitus Tipe 2

Kecuali dalam kondisi metabolik akut.

23.

Obesitas

Pasien dengan obesitas tanpa komorbid yang sedang dalam kondisi akut.

24.

Hipertiroid dan Hipotiroid (baik autoimun ataupun non-autoimun)

Dalam pengobatan jika secara klinis sudah stabil maka boleh diberikan vaksin COVID-19.

25.

Nodul tiroid

Diperbolehkan diberikan vaksin COVID-19 jika secara klinis tidak ada keluhan.

 

26.

Kanker darah, kanker tumor padat, kelainan darah seperti talasemia, imunohematologi, hemofilia, gangguan koagulasi dan kondisi lainnya

Kelayakan dari individu dengan kondisi ini ditentukan oleh dokter ahli di bidang terkait, konsulkan terlebih dahulu sebelum pemberian vaksin COVID-19.

 

27.

Penyakit gangguan psikosomatis

  • - Sangat direkomendasikan dilakukan komunikasi, pemberian informasi dan edukasi yang cukup lugas pada penerima vaksin.
  • - Dilakukan identifikasi pada pasien dengan masalah gangguan psikosomatik, khususnya ganggguan ansietas dan depresi perlu dilakukan edukasi yang cukup dan tatalaksana medis.
  • - Orang yang sedang mengalami stress (ansietas/depresi) berat, dianjurkan diperbaiki kondisi klinisnya sebelum menerima vaksinasi.
  • - Perhatian khusus terhadap terjadinya Immunization Stress-Related Response (ISRR) yang dapat terjadi sebelum, saat dan sesudah imunisasi pada orang yang berisiko:
  1. 1. Usia 10-19 tahun
  2. 2. Riwayat terjadi sinkop vaso-vagal
  3. 3. Pengalaman negatif sebelumnya terhadap pemberian suntikan.
  4. 4. Terdapat ansietas sebelumnya.

 

III. Penyintas COVID-19 jika sudah sembuh minimal 3 bulan, maka layak diberikan vaksin COVID-19.

 

IV. Penggunaan obat-obatan rutin tidak berhubungan dengan pembentukan antibodi pasca vaksinasi COVID-19 (misalnya statin, antiplatelet, dll).

 

V. Individu yang sudah mendapatkan vaksin COVID-19 saat ini tidak direkomendasikan untuk menjadi pendonor terapi plasma konvalesen.

 

VI. Pendonor yang sudah melakukan vaksin COVID-19 boleh dengan segera melakukan donor darah setelah vaksin jika TIDAK ditemukan atau mengalami KIPI. Namun, apabila ditemukan atau mengalami KIPI disarankan untuk melakukan donor darah jika sudah dinyatakan sembuh dari gejala-gejala efek samping tersebut dan tidak sedang mengkonsumsi obat.

 

VII. Jika melakukan donor darah setelah vaksin tidak akan mengurangi jumlah antibodi yang terbentuk, karena proses pembentukan antibodi bersifat dinamis.

 

VIII. Pemberian Vaksin COVID-19 pada Lanjut Usia 60 tahun keatas:

a. Rekomendasi Umum
Kriteria lansia yang LAYAK menerima vaksin COVID-19 (Coronavac/ Sinovac, AstraZeneca-Oxford, Moderna, Pfizer-BioNTech, dan Sinopharm) adalah:
1. Lansia yang TIDAK MEMILIKI kondisi berikut:
    a. Riwayat reaksi alergi berupa anafilaksis dan reaksi alergi berat akibat vaksin COVID-19 dosis pertama ataupun akibat dari komponen yang sama dengan yang terkandung dalam vaksin COVID-19
    b. Sedang mengalami infeksi akut. Jika infeksi sudah teratasi, maka dapat dilakukan vaksinasi COVID-19 berdasarkan penilaian dokter.
    c. Memiliki penyakit imunodefisiensi primer.

2. Untuk lansia dengan kondisi komorbid lain, kelayakan pemberian vaksinasi COVID-19 sesuai dengan rekomendasi PAPDI mengenai pemberian vaksinasi COVID-19 pada pasien dengan penyakit penyerta/ komorbid di poin II.

b. Rekomendasi Khusus
1. Lansia dengan frail / renta LAYAK untuk mendapatkan vaksinasi COVID-19 jika memenuhi syarat rekomendasi secara umum. Kriteria frail / renta jika memenuhi 3 atau lebih kondisi sesuai kuesioner R.A.P.U.H berikut:
    a. Mengalami kesulitan untuk naik 10 anak tangga
    b. Penurunan aktivitas fisik (sering merasa kelelahan) dalam 4 minggu terakhir
    c. Memiliki 4 dari 11 penyakit (hipertensi, diabetes, kanker (selain kanker kulit kecil), penyakit paru kronis, serangan jantung, gagal jantung kongestif, nyeri dada, asma, nyeri sendi, stroke, dan penyakit ginjal)
    d. Mengalami kesulitan berjalan sejauh 100 meter
    e. Penurunan berat badan yang bermakna

2. Lansia yang BELUM LAYAK mendapat vaksinasi adalah lansia dengan frail / renta derajat berat, yakni frail dengan salah satu kondisi sebagai berikut:
    a. Ketergantungan sepenuhnya terhadap orang lain dalam melakukan seluruh aktivitas hidup dasar sehari-hari.
    b. Memiliki penyakit terminal dengan angka harapan hidup yang rendah (kurang dari 6 bulan)

3. Jika terdapat keraguan dalam penilaian kondisi frail / renta, direkomendasikan untuk dikonsulkan ke dokter ahli bidangnya, yakni Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Geriatri (SpPD-KGer) atau Spesialis Penyakit Dalam Umum (SpPD) khususnya di lokasi yang tidak memiliki konsultan geriatri, untuk mendapatkan pengkajian lebih lanjut mengenai manfaat dan risiko pemberian vaksin.

 

IX. Hal khusus mengenai vaksin AstraZeneca untuk masyarakat umum, termasuk lanjut usia 60 tahun keatas:
a. Vaksin AstraZeneca merupakan salah satu jenis vaksin yang dianggap efektif dan telah disetujui digunakan dalam upaya pencegahan penularan COVID-19. Mengacu pada rekomendasi ISTH, EMA dan WHO GACVS manfaat dari pemberian vaksin ini dinilai lebih besar dari pada potensi komplikasi, dengan penjelasan:
     1. Mengacu pada rekomendasi International Society on Thrombosis and Haemostasis (ISTH), manfaat dari pemberian vaksin ini dinilai lebih besar dari pada potensi komplikasi yang terjadi, termasuk pada kelompok pasien dengan riwayat trombosis atau mereka yang secara rutin mendapatkan terapi antikoagulan/antiplatelet.
     2. Mengacu pula pada pada pernyataan dari European Medicines Agency (EMA), manfaat pemberian vaksin ini dalam upaya pencegahan COVID-19 melampaui risiko efek sampingnya.
     3. Mengacu pada pemberitahuan dari AstraZeneca kepada EMA, kejadian efek samping sangat jarang terjadi namun dapat menyebabkan trombosis dengan/tanpa disertai trombositopenia. Sesuai saran dari EMA, pihak AstraZeneca telah mencantumkan peringatan mengenai efek samping ini pada lembar informasi produk vaksin.
     4. Sesuai pernyataan dari WHO GACVS, hingga saat ini manfaat pemberian vaksin, termasuk AstraZeneca, melebihi risikonya. Para pengguna vaksin ini diharapkan senantiasa melaporkan efek samping yang terjadi demi menjamin keamanan vaksin.
b. Sesuai anjuran dari UK MHRA, mereka yang mengalami gejala sesak napas, pembengkakan tungkai bawah, nyeri kepala, gangguan penglihatan, atau lebam kulit setelah vaksinasi dengan vaksin AstraZeneca hendaknya segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan terdekat.
c. Pasien dengan riwayat trombosis atau mereka yang secara rutin mendapatkan terapi antikoagulan/antiplatelet masuk dalam kelompok special precaution.
d. Pada calon penerima vaksin AstraZeneca, yang memiliki special precaution seperti:
     1. Riwayat trombosis yaitu nyeri dan bengkak unilateral pada tungkai bawah yang berkaitan dengan trombosis vena dalam (DVT); dan dicatat jika terdapat faktor risiko trombosis yang signifikan.
     2. Riwayat stroke atau adanya riwayat keguguran berulang yang terkait antiphospholipid syndrome (APS).
         Apabila terdapat keraguan, harap dikonsultasikan dengan dokter spesialis penyakit dalam atau konsultan hematologi onkologi medik.
e. Apabila terjadi efek samping pasca vaksinasi, hendaknya dilaporkan kepada petugas berwenang, untuk penelusuran lebih lanjut.
f. Selain trombosis dan trombositopenia, data dari Inggris menunjukkan kejadian limfadenopati cukup sering ditemukan pasca penyuntikan vaksin AstraZeneca, namun efek samping ini sejauh ini tidak dianggap berbahaya.

g. Sebagai kesimpulan, PAPDI mendukung upaya vaksinasi COVID-19, termasuk pemakaian vaksin AstraZeneca, dengan tetap memperhatikan aspek keamanan dengan menganut prinsip:
1. Tidak menambah syarat pemberian vaksin yang sudah ada.
2. Kemungkinan munculnya efek samping di atas harus diinformasikan pada bagian edukasi KIPI sehingga para tenaga kesehatan dapat mengetahui dan menindaklanjuti apabila terjadi efek tersebut.
3. Sehubungan dengan masalah trombosis pada pemberian vaksin AstraZeneca, maka:
     a. Pemantauan efek samping untuk kemungkinan terjadinya trombosis perlu ditingkatkan dengan memperhatikan adanya laporan gejala trombosis seperti sakit kepala hebat, sesak napas, mata kabur, kaki bengkak unilateral, dll terutama pada hari ke-4 s/d hari ke-20 pasca vaksinasi. Dan bila terdapat gejala tersebut agar segera memeriksakan diri.
     b. Apabila pada calon penerima vaksin AstraZeneca dinilai memiliki kecenderungan trombosis oleh dokter yang merawat, maka hendaknya diberikan surat kelayakan/tidak layak untuk divaksinasi AstraZeneca.

 

X. Hal khusus mengenai vaksinasi mRNA sebagai booster, PAPDI menyusun rekomendasi dengan mempertimbangkan hal berikut:
a. Meningkatnya angka mortalitas dan kejadian infeksi pada tenaga kesehatan yang sudah divaksinasi dengan platform inactivated (Coronavac) sebanyak dua dosis.
b. Varian delta yang saat ini mendominasi kasus baru COVID-19.
c. Studi terkait pemberian vaksinasi heterolog/kombinasi dan rekomendasi vaksinasi booster di beberapa negara yang menggunakan vaksin platform inactivated.

Berikut poin rekomendasi dalam hal penggunaan vaksinasi mRNA sebagai booster:
a. Tenaga kesehatan merupakan garda terdepan dalam penanganan pasien COVID-19 dan memiliki risiko tinggi untuk tertular COVID-19. Enam bulan sejak vaksinasi platform inactivated, antibodi diketahui mulai berkurang, sehingga penting bagi tenaga kesehatan untuk diberikan booster vaksinasi COVID-19, terutama untuk menghadapi varian baru.
b. Penelitian yang ada menunjukkan antibodi yang terbentuk pasca vaksin booster mRNA naik cukup signifikan dan proteksi terhadap infeksi COVID-19 juga meningkat, walaupun belum ada data khusus untuk vaksin inactivated yang dilanjutkan dengan vaksin mRNA. Vaksin mRNA diketahui memiliki efikasi yang lebih baik terhadap varian baru dibandingkan dengan platform vaksin lainnya.
c. Rekomendasi kelayakan vaksinasi mRNA pada keadaan khusus/komorbid tertentu secara umum sesuai dengan rekomendasi PAPDI mengenai pemberian vaksinasi COVID-19 pada pasien dengan penyakit penyerta/ komorbid di poin II.
d. Efek samping vaksin mRNA yang muncul secara umum sama dengan vaksinasi COVID-19 pada umumnya. Reaksi anafilaksis setelah pemberian vaksin mRNA perlu menjadi perhatian khusus karena kandungan polietilen glikol (PEG) pada vaksin mRNA ini walaupun angka kejadiannya sangat kecil. Diketahui efek samping yang muncul pasca vaksinasi kombinasi platform viral vector dan mRNA untuk vaksinasi pertama dan kedua, lebih banyak jika dibandingkan menggunakan platform yang sama. Hal ini mungkin juga terjadi pada vaksin inactivated jika dikombinasi dengan platform yang berbeda walaupun sedang menunggu studi lebih lanjut.

 

XI. Apabila terdapat keraguan, maka konsultasikan dengan dokter yang merawat. Pada beberapa kondisi dimana seseorang memerlukan surat keterangan Dokter Spesialis Penyakit Dalam untuk kelayakan vaksinasi COVID-19, dapat menggunakan format seperti lampiran dibawah.

 

 

 

 

Surat Keterangan Kelayakan Vaksinasi COVID-19


Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama :

Menerangkan bahwa

Nama :
Tanggal lahir :

Setelah dilakukan pengkajian yang komprehensif, layak/tidak layak* mendapatkan vaksinasi COVID-19. Demikian surat keterangan ini dibuat untuk digunakan dengan semestinya.

 

(Tempat/tanggal/bulan/tahun)


Ttd


(Nama Dokter Spesialis Penyakit Dalam)

*Coret yang tidak perlu